Kajian Tangisan: Menangis karena Takut kepada Allah dan Rindu kepada-Nya

Oleh Ust. Drs. Abu Bakar



Pendahuluan

Menangis adalah ekspresi jiwa untuk menyampaikan perasaan yang terpendam. Melalui tangisan, berbagai beban psikologis dapat berkurang bahkan hilang. Ia adalah peristiwa alami manusia yang menumbuhkan kepekaan perasaan: sedih, kasih sayang, cinta, empati, syukur, dan keinginan untuk memperbaiki diri.

Namun, tidak semua tangisan bernilai ibadah. Menangis karena alasan duniawi atau kebiasaan belum tentu bernilai spiritual. Adapun tangisan yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah SWT adalah tangisan karena takut kepada-Nya dan rindu ingin berjumpa dengan-Nya.

Tangisan ini lahir dari kesadaran akan dahsyatnya ancaman Allah terhadap para pendosa, dan sekaligus rasa harap akan kasih sayang dan janji Allah tentang keindahan surga, dengan puncak kenikmatan berupa melihat Wajah-Nya yang Maha Mulia.


Dalil dari Al-Qur’an

Allah SWT berfirman:

"Dan mereka tersungkur atas wajah mereka sambil menangis, dan hal itu menambah kekhusyukan mereka."
(QS. Al-Isra: 109)

وَيَخِرُّوْنَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا

Ayat ini menggambarkan para ahli kitab yang diberi ilmu oleh Allah. Ketika mereka mendengar ayat-ayat suci dibacakan, mereka sujud lama sambil menangis karena hati mereka tersentuh—takut dan rindu akan perjumpaan dengan Allah SWT.


Contoh dari Rasulullah SAW

Rasulullah SAW pun menangis ketika mendengar Al-Qur’an. Dalam hadis disebutkan, beliau meminta sahabat Ibnu Mas’ud r.a. untuk membacakan Al-Qur’an.

Ketika bacaan sampai pada ayat:

"Dan Kami datangkan engkau (wahai Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu..."
(QS. An-Nisa: 41)

وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَـٰٓؤُلَآءِ شَهِيدًۭا

Nabi SAW menghentikan bacaan karena air mata beliau telah mengalir deras, dan beliau tidak sanggup mendengarkan lebih lanjut.
(HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Mas’ud r.a.)


Menangis Saat Berdzikir

Rasulullah SAW bersabda:

“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya... (di antaranya):
Seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian, lalu berlinanglah air matanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ


Makna "Khāliyan" (Dalam Kesendirian)

Makna خاليًا bukan hanya dalam arti tempat yang sunyi, tapi juga hati yang benar-benar kosong dari hal lain selain Allah SWT. Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:

“Jika hati seseorang sibuk memikirkan dunia, ia tidak akan bisa menangis karena dzikir. Tangisan karena Allah hanya mungkin terjadi jika hati hadir secara utuh kepada-Nya.”

Dengan demikian, konsentrasi dan ketulusan hati adalah kunci hadirnya air mata keimanan.


Waktu Paling Utama untuk Menangis

Makna “khāliyan” juga mencakup kesunyian malam, terutama saat mayoritas manusia tidur lelap. Tangisan dalam qiyamullail—saat seseorang bangun di sepertiga malam untuk berdzikir dan bermunajat—adalah tangisan yang paling jujur dan paling bernilai di sisi Allah SWT.


Penjelasan Para Ulama

Dalam Syarah Riyadhus Shalihin, Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa tangisan memiliki berbagai sebab, seperti:

  1. Takut akan siksa Allah dan dosa sendiri

  2. Rasa rindu kepada Allah

  3. Derita fisik atau batin

  4. Kelembutan iman karena membaca Al-Qur’an

  5. Mendengar doa yang menyentuh

  6. Keharuan saat menyendiri di hadapan-Nya

Tangisan karena Allah adalah tanda kelembutan hati, dan termasuk tanda orang bertakwa.


Penutup

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang hatinya lembut, mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah, dan dapat menangis dalam dzikir, doa, dan sujud. Jangan malu menangis dalam ibadah—karena tangisan karena Allah bukanlah kelemahan, tapi kekuatan iman dan kejernihan jiwa.

Tangisan seperti inilah yang akan menaungi kita di padang mahsyar, yang mendekatkan kita kepada rida Allah, dan membuka jalan menuju surga-Nya.


Sumber Bacaan

    1. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim

    2. Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi

    3. Syarah Riyadhus Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Jilid 1–2, hlm. 189–195

    4. Tafsir QS. Al-Isra: 109 dan QS. An-Nisa: 41

    5. Dll.

Komentar